CARA
MENANGANI TURUNYA PRODUKSI TELUR
Pada edisi sebelumnya telah dikemukakan bahwa turunya
produksi telur umumnya disebabkan oleh
kurangnya lama penyinaran, nutrisi tidak cukup, penyakit, dan umur yang semakin
tua dan stres.
1. Lama Pencahayaan
Ayam petelur membutukkan cahaya untuk dapat berproduksi
secara optimal. Adanya pencahayaan, baik berasal dari cahaya alami (sinar
matahari) maupun buatan (lampu) akan menstimulasi hipotalamus yang kemudian
diteruskan ke kelenjar-kelenjar tubuh, seperti hipofisa, tiroid dan paratiroid
untuk mensekresikan (menghasilkan) hormon. Kelenjar hipofisa akan mensekresikan
folicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Hormon FSH
berfungsi mematangkan folikel/sel telur pada indung telur (ovarium), sedangkan
hormon LH berfungsi menggertak proses ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium
ke oviduk/saluran telur). Kedua hormon inilah yang sangat berperan penting bagi
pembentukan sebutir telur.
Ayam petelur membutuhkan lama pencahayaan selama antara
antara 13-16 jam (peningkatan bertahap mengikuti umur ayam) untuk
mempertahankan produksi telur. Masalahnya lama pencahayaan alami dari sinar matahari
umumnya berlangsung hanya selama 12 jam. Jika lama pencahayaan kurang, maka
produksi telur akan turun dan bahkan bisa sampai berhenti. Kekurangan lama
pencahayaan seringkali menyebabkan rontok bulu bahkan yang lebih ekstrim adalah
ayam berhenti bertelur selama sekitar dua bulan.
Untuk mengatasi hal ini, berikan cahaya tambahan untuk
meningkatkan lama pencahayaan tetap konstan 13-16 jam per hari. Penambahan
cahaya cukup 3 watt tiap m2 luas kandang. Penambahan cahaya dilakukan secara
bertahap. Salah satu program pencahayaan adalah dengan menaikkan lama
pencahayaan 1 jam tiap 2 minggu sehingga pada umur 25 minggu ayam sudah
mendapat cahaya tambahan selama 4 jam semalam.
2. Nutrisi yang Seimbang
Ayam telur membutuhkan ransum dengan nutnsi seimbang
untuk mempertahankan produksi telur selama masa produksi. Nutrisi yang tidak
tepat dapat menyebabkan ayam berhenti bertelur.
Masalah
yang sering terjadi di lapangan adalah turunya produksi telur karena terkadang
peternak menyusun ransum sendiri untuk menghemat biaya (karena harga pakan
semakin tinggi). Sebenarnya menyusun ransum sendiri tidak dilarang (bahkan
bagus karena dapat menghemat biaya pakan) asalkan peternak memiliki
keterampilan dalam memformulasikan pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi
ayam. Jika tidak memiliki keterampilan atau ilmu nutrisinya disarankan
menggunakan pakan konsentrat setengah jadi (perlu lagi di campur dengan jagung
giling dan dedak/bekatul) dengan perbandingan sesuai ketentuan pabrik pakan
yang digunakan.
Kadar energi, protein, atau kalsium yang tidak cukup
juga dapat menurunkan produksi telur. Sangat penting menyediakan ransum
mengandung nutrisi seimbang pada masa produksi dengan kadar protein 16-18%.
Namun nutrisi dalam ransum seringkali rusak akibat penanganan dan penyimpanan
yang kurang tepat. Dua jenis asam arnino penting yaitu methionine dan lysine
perlu ditambahkan dalam ransum karena ransum seringkali kekurangan asam amino
tersebut. Bila mutu ransum kurang baik, tambahkan premiks untuk rneningkatkan
mutu ransum.
Ayam telur dapat menghasilkan sekitar 300-325 butir
telur tiap tahun sehingga membutuhkan kalsium sebanyak 20 kali jumlah kalsiurn
yang ada di dalam tulangnya. Dibutuhkan 25 mg kalsium tiap menit untuk
membentuk kerabang telur. Kebutuhan vitamin D perlu tercukupi agar penyerapan
kalsium dan fosfor berlangsung baik. Pemberian mineral feed supplement dapat
membantu memperkuat kerabang telur.
Masalah ke dua yang sering terjadi adalah tidak
tersedianya air minum yang bersih dan segar. Ayam tanpa air minum hanya selama
beberapa jam dapat berhenti bertelur sampai berminggu-minggu. Oleh karena itu,
sediakan tempat minum dalam jumlah cukup sehingga ayam selalu memperoleh air
minum yang segar.
3. Penyakit
Serangan penyakit masih dapat terjadi meskipun ayam
dalam kondisi terbaik. Penurunan produksi telur seringkali merupakan salah satu
gejala awal adanya serangan penyakit. Gejala lainnya dapat berupa lesu dan bulu
kusam, mata berair, keluar ingus dari hidung, batuk, rontok bulu, pincang,
sampai kematian. Jika peternak rnelihat seekor ayam sakit, lakukan isolasi atau
pengafkiran dan amati keseluruhan populasi secara teliti. Jika curiga ada serangan
penyakit, segera tangani atau jiga belum bisa menangani sendiri segera hubungi
dokter hewan setempat agar dapat membantu memeriksa sehingga diperoleh diagnosa
dan pengobatan yang akurat.
Pada
umumnya, saat ayam terkena penyakit apapun, maka produksi telur akan terganggu.
Penyakit yang secara langsung dapat menyebabkan penurunan produksi telur. di
antaranya adalah: EDS, ND, IB, CRD dan colibacillosis. Penyakit ND dan IB
menurunkan kualitas kerabang dan bagian dalam telur. EDS menyebabkan kerabang
telur sangat tipis sehingga telur mudah pecah, sedangkan ND dan IB dapat
merusak saluran produksi.
Berkenaan besarnya kerugian akibat ayam sakit maka
tindakan pencegahan merupakan langkah yang bijaksana. Langkah pencegahan antara
lain dengan penggunaan bibit/pullet yang baik dan sehat, vaksinasi secara
teratur, penerapan bioscurity dan sanitasi kandang serta manajemen pemeliharaan
yang baik.
4. Umur Ayam
Umur yang semakin tua dapat berpengaruh pada produksi
telur. Pengaruh ini sangat bervariasi di antara individu ayam. Ayam dapat
berproduksi secara efisien selama dua siklus masa bertelur. Setelah dua tahun,
produktivitas akan menurun. Secara umum, produksi telur paling baik selama
tahun pertama, namun ayam telur yang berproduksi tinggi dapat berproduksi cukup
baik selama 2-3 tahun. Kondisi ini berbeda pada setiap strain ayam. Ayam telur
yang berproduksi tinggi akan bertelur selama sekitar 50-60 minggu tiap siklus
masa bertelur
5. Stres
Selain menjadi pemicu ayam sakit, stres juga dapat
menyebabkan turunnya produksi telur. Agar produksi telur tidak turun, berikan
multivitamin kurang lebih selama 5 hari berturut-turut.
Stres biasa terjadi karena:
1. Kedinginan
Stres yang paling sering selama musim hujan adalah
kedinginan. Pastikan ayam mendapat perlindungan dari angin dan hujan selama
musim hujan namun jangan sampai menutup terlalu rapat sehingga menyebabkan
tingginya kadar amonia. Jika tercium bau amonia, inilah saatnya meningkatkan
lubang udara di dalam kandang. Ayam tidak dapat bertahan dalam kondisi lembab
dan terlalu banyak angin.
2. Kepanasan
Dalam cuaca panas, ayam akan lebih banyak minum dan
mengurangi konsumsi ransum sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi. Kondisi
ini dapat menyebabkan produksi telur turun karena kebutuhan energi dan protein
harian tidak tercukupi. Dalam kondisi lingkungan panas, fisiologi tubuh ayam
akan mengubah prioritasnya dari semula untuk produksi telur menjadi untuk
bertahan hidup. Oleh sebab itu, saat cuaca panas perlu tambahan vitamin dan
atau menambahkan kipas angin di dalam kandang supaya produksi telur tidak
terganggu.
3. Penangkapan, pemindahan dan kepadatan
Batasi pemindahan atau penangkapan yang tidak perlu.
Populasi yang terlalu padat dapat meningkatkan kanibalisme dan akhirnya stres
pada ayam.
4. Parasit
Jika ada parasit eksternal dan internal, berikan
pengobatan yang sesuai.
5. Keributan/kebisingan
Batasi suara ribut orang-orang dan suara kendaraan di
sekitar kandang untuk mencegah ayam ketakutan. Cara yang unik yang banyak
digunakan peternak adalah dengan memperdengarkan radio atau musik di dalam
kandang sehingga ayam menjadi terbiasa dengan suara gaduh sehingga jika ada
suara gaduh dari luar ayam tidak terlalu kaget sehingga dapat menghindarkan
ayam dari stress.
Sebagai kesimpulan, produksi telur yang turun dapat
disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari mutu ransum, tatalaksana
pemeliharaan, sampai adanya serangan penyakit dapat menurunkan produksi telur.
Perlindungan terbaik terhadap penyakit diawali dengan
membeli DOC atau pullet yang sehat. Hindari pelihara ayam dengan umur yang
tidak seragam. Kontrol terhadap lama penyinaran dan berat badan pada ayam
pullet sangat menentukan permulaan produksi telur
KESIMPULAN
PRODUKSI TURUN
ü Stres
karena bermacam-macam sebab seperti potong paruh, setelah pemberian obat
cacing, penggantian ransum, setelah vaksinasi.
ü Ransum
bermutu jelek.
ü Ayam
terserang penyakit.
ü Produksi
dan mutu telur turun. Ayam terserang penyakit seperti EDS ‘76, IB, pullorum
atau ND.
ü Produksi
telur turun tetapi mutu telur tidak turun. Ayam terserang penyakit AE.
ü Ayam
sedang dalam pergantian bulu (rontok bulu).
ü Ayam
stres karena berbagai hal.
ü Ayam
kekurangan air minum, tempat minum banyak yang kosong.
ü Tempat
air minum letaknya terlalu rendah atau tinggi.
ü Pencahayaan
tidak tepat.
Cara Menangani Turunya Produksi Telur Bagian 2
4/
5
Oleh
Unknown


